25 Juli 2011

Responsive terhadap perubahan jaman

Saat terjadi perubahan, smua terasa menyesakkan. PHK, pengurangan fasilitas, kesejahteraan berkurang, gaji tetap kerjaan berlipat lipat. Ya itulah yang sekarang terjadi di persh tempat aku bernaung sekarang. Semua tak sama dan tak seindah 5 tahun yang lalu. Dulu, kantor ini serasa ramai penuh dengan canda ria, hingar bingar canda ria teman teman, tapi sekarang terasa begitu sunyi. hanya tinggal aku dan seorang lagi, di ruangan sebesar ini. meja kosong melompong, ditinggalkan penghuninya. Sedemikian sesak perubahan ini, tetapi memang harus dilakukan bila tidak menginginkan ancaman kebangkrutan. Aku selalu meyakini apa yang aku jalani hari ini adalah memang yang terbaik yang diberikan olehNYA. tidak selamanya perubahan yang terjadi semua buruk, hanya ketakutan semata yang ada dipelupuk mata melihat semua tidak seenak dulu. ada keinginan untuk melirik ladang tetangga, sehijau itukah seindah itukah ladang tetangga seperti yang ada dalam angan anganku ya?? karna menilik dari teman teman yang sudah berpindah, sepertinya gaji yang besar tidak menjanjikan ketentraman hati dan kenyamanan bekerja. tadi pagi, sempat bercengkerama dengan suami tercinta, membahas perubahan ini. yang ada di mataku hanya ketakutan, ketidak sanggupan dan ketidak mampuan akan beban kerja yang menjadi berlipat lipat. meski saat ini hal itu sudah aku lakukan, dan ternyata enjoy saja aku lakukan..dan nyata nyata aku mampu menghandle kerjaan lapangan dan di dalam kantor. huaahhh, yang menjadi tidak ada pembeda dari dulu hingga sekarang adalah kerajinan, effort kerja dan keterampilan, kesregepan bekerja dianggap sama. tidak ada reward sebagai hasil jerih payah kita. kadang itu membuatku berfikir untuk hengkang saja dari sini. akan tetapi, papa begitu memberikan garis batas yang tegas untuk aku dalam berkarir. 5 syarat yang harus terpenuhi bila harus hengkang. tidak ada perjalanan sering ke luar kota, 5 hari kerja, tetap di kota ini, jam pekerjaan yang sama, tidak mengejar impian berkarir, dan tidak boleh mengoyo dalam mengejar mimpi alias standart. keluarga tetap harus nomor satu bila ingin tetap berkarya di luar rumah, gaji mama bukan tumpuan keluarga hanya sebatas membantu dan memenuhi hasrat ingin beraktifitas di luar rumah. cengkrama setiap pagi, berkeluh kesah dengan papa diselingi dengan bermanja manja selalu bisa meredam dan menyejukkan gejolak emosi ini. keinginan untuk hengkang selalu bisa diredam papa, papa selalu bisa meyakinkan untuk meyakini mensyukuri bahwa apa yang telah aku terima dalam hal pekerjaan sekarang adalah yang terbaik. keinginan menggebu gebu untuk berkarir meraih sukses dengan jabatan karyawan tetap dan gaji lebih tinggi selalu bisa diberikan batas garis oleh papa, bahwa yang terpenting adalah tasya. apalah sebuah karir, kesuksesan bekerja bila waktuku dengan tasya tersita lebih banyak. terbersit keinginan untuk berhenti bekerja terkadang, tetapi apakah aku sudah siap dan mampu?? prinsip yang selama ini ku pegang adalah bekerja apa adanya tapi tetap bisa mengkontrol dan menghandle rumah tanggaku. terutama kebutuhan tasya, dan melayani suami. alhamdulilah, meski tidak sepenuhnya sempurna.. papa sudah puas aku bisa melakukan keduanya untuk saat ini.
blog-ku tercinta..hanya tempat ini aku bisa menyalurkan hoby menulis, curhatan di hati, kegembiraan dan hal hal yang menyesakkan yang terlewati dalam hidupku. mengapa aku lebih enjoy memilih blog, karena tulisan ini akan tetap termemori hingga aku tua nanti. yah, siapa tau nanti cicitku tidak sengaja saat browsing menemukan blog neneknya hehehe...asal tau saja, papa juga tidak tau akan keberadaan blog ini.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda